Search This Blog

Saturday, October 19, 2019

HAMMAS

suatu ketika 28 juli 2016



Aku, adalah bumi. Menopang meski diinjak, memberi meski dihujani, diam meski dipanasi. Sampai kau sadar, jika aku hancur.. Kau juga. ( fiersa besari ) lahir dari sebuah pemikiran, kesadaran untuk tetap saling menghargai antara manusia dan bumi, semesta tidak akan pernah menghakimi, seperti kata kata orang ketika bencana datang, tanah longsor, gempa bumi, banjir, dan masih banyak lagi, tapi semesta tak sekejam itu. hanya sedikit teguran, yang mungkin bisa menyadarkan.apakah kita baru akan menyadari ketika sudah terjadi...?? jika benar adanya, kenapa tidak kita hancurkan saja sebagian isi bumi ini. lalu manusia datang berbondong-bondong dengan tujuan sosial dan sosialisasi ( memperkenalkan benderanya masing-masing ).

Kakimu Bukan Akar, Melangkahlah. "Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur,
( ucap Soe Hok Gie ). senja 28 juni 2016, menghantarkan pada beberapa umat, untuk mulai berfikir, adanya timbal balik antara manusia dan semesta, ya dia adalah HAMMAS ( Himpunan Angkatan Muda Muhammadiyah Sitalang ) sebuah wadah untuk menggabungkan ide-ide positif, 
 ( tanggap bencana, kajian keagamaan, baitus sampah, dan penghijauan ) demi beberapa pokok permasalahan, didorong adanya pemikiran yang kritis dari beberapa pemuda. sebuah organisasi yang lahir di dusun sitalang, desa sidengok, pejawaran, banjarnegara, jawa tengah ini telah berhasil mengolah sampah organik menjadi PGPR ( Plant Growth Promoting Rhizobacteria ), dan dari hasil penjualan pupuk organik cair ( POC ) sebagian mereka manfaatkan untuk membantu  anak-anak yang membutuhkan. teruslah berkarya sahabat semesta tersenyum telah memiliki kalian, karena Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang , tapi kita meminjamnya dari anak cucu.

suatu ketika 18 oktober 2019

 jejak langkah menghantarkanku pada sebuah pelabuhan, memaksa untuk berhenti, saling membaur demi sebuah misi kemanusiaan, memaksa pola fikir untuk saling menghargai antara manusia dengan semesta, hal yang paling menyenangkan adalah berdiskusi, menyatukan ide pemikiran, memecahkan sebuah masalah, menemukan solusi, dan bersama-sama menunjukan aksi.



saya rasa satu tindakan kecil akan lebih mengenai hasil dari pada saling menghakimi.
 apa yang di sampaikan ( wallace-well dalam bukunya Bumi Yang Tak Dapat Dihuni ) sungguh sangat mengerikan, bahwa bumi sedang dalam kondisi darurat. mendiang Stephen Hawking bahkan memprediksi umur bumi yang kita tinggali ini hanya akan bertahan sampai 100 tahun ke depan. jelas sangat mengerikan jika kita tetap meng eksploitasi bumi tanpa ada tindakan untuk menjaga, melindungi, dan memperbaharui, mungkin apa yang diprediksi akan terjadi. sekarang kita amati beberapa fakta-fakta yang terjadi disekitar kita, daerah pegunungan hilang mata airnya, pemanasan global, dan perubahan iklim yang secara tiba-tiba bukan lagi sebagai dongeng.
siapa bilang bumi kita sedang baik-baik saja..? dataran tinggi dieng pada bulan tertentu turun salju yang biasa kita sebut ( embun upas ) bukankah ini salah satu efek pemanasan global ?
perubahan iklim tidak hanya merusak lingkungan secara fisik, namun bisa berimbas pada sektor perekonomian, ( petani kentang gagal panin karena embun upas ), pernah mendengar suatu kelompok saling berebut  sumber mata air ? dan inilah salah satu dampak yang sangat ekstrim, akibat perubahan iklim bisa memicu konflik.

aku merindu. merindu duduk diberanda rumah memandangi capung berterbangan dikala musim kemarau, suatu pemandangan yang sangat indah semasa kecilku, dan anak cucu kita hanya akan mendengarkan cerita yang sangat indah itu tanpa bisa melihat. dan aku tak ingin hal yang sama terjadi pada cucuku, anakku menceritakan rindang dan sejuknya hutan pada cucuku sebatas cerita tak nampak lagi hutan.sebelum itu terjadi mari kita bersama menjaga, melindungi, memperbaharui semesta.
"karena Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang , tapi kita meminjamnya dari anak cucu".

No comments:

Post a Comment