Search This Blog

Sunday, November 10, 2019


"BERSIH BUKIT PETARANGAN"
Komunitas Bukit Petarangan ( KBP )



Suatu Ketika 21, Oktober 2019
keelokan hutan yang digadang - gadang sebagia peru - paru dunia dan sumber penghidupan kini dekit demi sedikit terkikis oleh keserakahan manusia, semua tinggal cerita penghantar tidur begitu juga ekosistem yang ada dilamnya, burung tak lagi bersua menemani keindahan senja, belalang tak lagi bergelantungan didahan mencari makan, monyet - monyet hilang populasi. bahkan binatang buaspun turun diareal pertanian untuk mencari penghidupan. tidak perlu menyalahkan sebab ada beberapa tangan - tangan yang tidak bertanggung jawab telah merusak habitatnya. tidak ada pilihan selain perlawanan sebagai bentuk protes sang penghuni hutan demi mencari makan, sebab rantai makanannya telah diputus oleh manusia - manusia yang memiliki kepentingan. sama - sama mencari makan tapi saling sikut kiri dan kanan, yang sangat disayangkan persainagan ini bukan antara manusia dengan menusia melainkan manusia dengan binatang. yang katanya diciptakan paling sempurna dianatara dari mahluk yang ada dibumi. 
berbahagialah tanpa harus menyakiti yang lain adalah tujuan yang tepat ( Y.E )


salah satu kekayaan bumi dihinggapi api yang sangat mengila dibakar oleh beberapa manusia yang serakah. ada beberapa manusia yang bangga melihat besarnya kobaran api dan adapula beberpa manusia yang bersedih lalu berbondong - bondong memadamkannya, sebab mereka sadar. hutan itu adalah sumber penghidupan mereka, air yang dialirkannya mampu memenuhi kebutuhan penghidupan mereka, oksigen yang dipersembahkan khusus untuk mnusia yang secara cuma - cuma gratis tak pernah dinilai dengan nominal. lalu jangna pernah dipertanyaakan apa yang telah manusia persembahkan untuk menjaga hutan ini ? melainkan mairi kita renungkan tentang apa saja yang telah hutan berikan pada manusia ? 
tetapi ramah mengiri, melantukan melodi, dan percayalah ALLOH menciptakan massa untuk kita berfikir dan memperbaiki diri. masih ada esok untuk kita memperbaiki, masih ada massa untuk menjadi berarti, masih ada kesempatan bila kita mau mencari. 



Suatu Ketika 09, November 2019
kesadaran kecil yang berujung pada satu aksi akan merubah beberapa teori yang memusingkan, langkah awal dari kesadaran kita adalah membersihkan sisa sampah yang ada di bukit petarangan pasca pemadaman kebakaran. kita sadari sampah plastik akan susah terurai bahkan mampu menganggu kerlangsungan ekosistem yang ada. kegiatan yang diusung oleh KBP ( Komunitas Bukit Petarangan ) ini tidak hanya sampai disitu melainkan akan dilanjutkan dengan kegiatan penanaman pohon upaya untuk menggembalikan keberlamgsungan kehidupan yang ada dihutan. kegiatan tersebut diikuti oleh beberapa kominitas dan
sekolah - sekolah yang berada di wilayah Batur, Banjarnegara. generasi -generasi muda yang antusias dalam menjaga alam, pahlawan. jika mengacu pada pengertianya ( pahlawan adalah orang yang dari dirinya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat / pahala yang berkualitas bagi bangsa, negara dan agama atau orang yang berani dan pengorbanannya dalam membela kebenaran). maka kalian pantas disebut pahlawan. 
datang dengan penuh keihlasan, menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain, dan untuk alam semesta. tetaplah menjadi pahlawan tanpa harus dikenal dunia, tetaplah menjadi aktifi lingkungan demi keseimbangan.

Thursday, October 24, 2019


"wong alam"



( personil wong alam )

suatu ketika 12 oktober 2019

bersal dari dua suku kata yaitu "wong dan alam" wong sendiri bersal dari bahasa jawa yang artinya adalah orang atau manusia.sedangkan "alam" mencakup segala materi hidup dan materi bukan hidup yang berada secara alami di bumi. Untuk sebagian orang, ada kesulitan terhadap istilah "alam" karena kebanyakan lingkungan alami memiliki pengaruh manusia pada satu waktu atau lainnya, baik secara langsung atau tidak.jadi kalo saya mengartikan wong alam adalah lebih dari definisi yang ditentukan. Banyak lingkungan alam adalah hasil dari interaksi antara alam dan manusia. Karena alasan ini, istilah "ekosistem" telah digunakan untuk menggambarkan lingkungan yang mengandung alam, termasuknya manusia. Berdasarkan hal ini, masalah lingkungan adalah masalah manusia atau sosial. Ada beberapa orang menganggap bahwa pemisahan "lingkungan" dari "manusia" sangat berbahaya. Ini merupakan pemahaman umum yang telah menjadi dasar environmentalisme, yakni pergerakan politik, sosial dan filsafat yang luas dan yang mendukung berbagai tindakan dan kebijakan untuk melindungi alam yang ditinggali, atau mengembalikan dan mengembangkan peran alam di lingkungan ini.

mari mengenal profil dari  "wong alam" lebih dekat.
berdiri pada 12 oktober 2019 bertepatan dengan kegiatan "Education To Protect Natural" yang di adakan teman-teman KOMPAS, sekaligus kegiatan perdana dari wong alam, kesekretariatan berada di desa karangkobar Rt 03 Rw 04 karangkobar, banjarnegara, jawa tengah. wong alam sendiri merupakan wadah anak-anak muda yang sadar akan lingkungan, mencoba menyambungkan korelasi yang serasi antara manusia dan alam. "beri saya 100 orang tua maka akan aku guncangkan semeru, beri saya 10 pemuda, maka akan saya guncangkan dunia" ( ir soekarno ). percayalah nasib sebuah bangsa, agama, dan dunia tergantung pada generasi muda, ir soekarna memang telah mendahului kita, tapi percayalah cita citanya tidak pernah mati karena akan selalu ada generasi muda yang akan melanjutkan harapan-harapanya. 

berdiri atas dasar kesadaran dan rasa kekhawatiran akan kelestarian lingkungan, yang  menyatukan berbagai ide pemikiran untuk saling bekerja sama demi tercapainya cita-cita, terbentuklah "Wong Alam" organisasi yang mayoritas dimotori oleh pelajar tingkat SLTA, semoga akan memberi harapan baru untuk saling bahu membahu demi misi menyelamatkan bumi. bahkan saya belum bisa merangkai kata hingga menyusun  kalimat yang tepat untuk mengambarkan semanggat kalian. cerita ini tak lagi sama, hanya menjadi donggeng pengantar dikala tidur, cerita tentang hutan yang tak hujau lagi, tentang hutan yang kehilangan sumber mata airnya, tentang binatang yang tingal cerita dan gambarnya.

"saya sadar bahwa saya cuma akan satu kali menjadi dewasa, dan saya tidak mau menjadi dewasa dengan membosankan" ( fiersa besari dalam bukunya catatan juang ). rotasi ini semakin cepat higga  datang dan pergi silih berganti antara reaksi gelap dan reaksi terang.  tetaplah menjadi hebat, membuat bumi tersenyum karena ada kalian, tetaplah menjadi generasi mileneal yang tidak membosankan. 

Saturday, October 19, 2019

HAMMAS

suatu ketika 28 juli 2016



Aku, adalah bumi. Menopang meski diinjak, memberi meski dihujani, diam meski dipanasi. Sampai kau sadar, jika aku hancur.. Kau juga. ( fiersa besari ) lahir dari sebuah pemikiran, kesadaran untuk tetap saling menghargai antara manusia dan bumi, semesta tidak akan pernah menghakimi, seperti kata kata orang ketika bencana datang, tanah longsor, gempa bumi, banjir, dan masih banyak lagi, tapi semesta tak sekejam itu. hanya sedikit teguran, yang mungkin bisa menyadarkan.apakah kita baru akan menyadari ketika sudah terjadi...?? jika benar adanya, kenapa tidak kita hancurkan saja sebagian isi bumi ini. lalu manusia datang berbondong-bondong dengan tujuan sosial dan sosialisasi ( memperkenalkan benderanya masing-masing ).

Kakimu Bukan Akar, Melangkahlah. "Orang-orang seperti kita, tidak pantas mati di tempat tidur,
( ucap Soe Hok Gie ). senja 28 juni 2016, menghantarkan pada beberapa umat, untuk mulai berfikir, adanya timbal balik antara manusia dan semesta, ya dia adalah HAMMAS ( Himpunan Angkatan Muda Muhammadiyah Sitalang ) sebuah wadah untuk menggabungkan ide-ide positif, 
 ( tanggap bencana, kajian keagamaan, baitus sampah, dan penghijauan ) demi beberapa pokok permasalahan, didorong adanya pemikiran yang kritis dari beberapa pemuda. sebuah organisasi yang lahir di dusun sitalang, desa sidengok, pejawaran, banjarnegara, jawa tengah ini telah berhasil mengolah sampah organik menjadi PGPR ( Plant Growth Promoting Rhizobacteria ), dan dari hasil penjualan pupuk organik cair ( POC ) sebagian mereka manfaatkan untuk membantu  anak-anak yang membutuhkan. teruslah berkarya sahabat semesta tersenyum telah memiliki kalian, karena Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang , tapi kita meminjamnya dari anak cucu.

suatu ketika 18 oktober 2019

 jejak langkah menghantarkanku pada sebuah pelabuhan, memaksa untuk berhenti, saling membaur demi sebuah misi kemanusiaan, memaksa pola fikir untuk saling menghargai antara manusia dengan semesta, hal yang paling menyenangkan adalah berdiskusi, menyatukan ide pemikiran, memecahkan sebuah masalah, menemukan solusi, dan bersama-sama menunjukan aksi.



saya rasa satu tindakan kecil akan lebih mengenai hasil dari pada saling menghakimi.
 apa yang di sampaikan ( wallace-well dalam bukunya Bumi Yang Tak Dapat Dihuni ) sungguh sangat mengerikan, bahwa bumi sedang dalam kondisi darurat. mendiang Stephen Hawking bahkan memprediksi umur bumi yang kita tinggali ini hanya akan bertahan sampai 100 tahun ke depan. jelas sangat mengerikan jika kita tetap meng eksploitasi bumi tanpa ada tindakan untuk menjaga, melindungi, dan memperbaharui, mungkin apa yang diprediksi akan terjadi. sekarang kita amati beberapa fakta-fakta yang terjadi disekitar kita, daerah pegunungan hilang mata airnya, pemanasan global, dan perubahan iklim yang secara tiba-tiba bukan lagi sebagai dongeng.
siapa bilang bumi kita sedang baik-baik saja..? dataran tinggi dieng pada bulan tertentu turun salju yang biasa kita sebut ( embun upas ) bukankah ini salah satu efek pemanasan global ?
perubahan iklim tidak hanya merusak lingkungan secara fisik, namun bisa berimbas pada sektor perekonomian, ( petani kentang gagal panin karena embun upas ), pernah mendengar suatu kelompok saling berebut  sumber mata air ? dan inilah salah satu dampak yang sangat ekstrim, akibat perubahan iklim bisa memicu konflik.

aku merindu. merindu duduk diberanda rumah memandangi capung berterbangan dikala musim kemarau, suatu pemandangan yang sangat indah semasa kecilku, dan anak cucu kita hanya akan mendengarkan cerita yang sangat indah itu tanpa bisa melihat. dan aku tak ingin hal yang sama terjadi pada cucuku, anakku menceritakan rindang dan sejuknya hutan pada cucuku sebatas cerita tak nampak lagi hutan.sebelum itu terjadi mari kita bersama menjaga, melindungi, memperbaharui semesta.
"karena Kita tidak mewarisi bumi dari nenek moyang , tapi kita meminjamnya dari anak cucu".

Tuesday, October 15, 2019

EDUCATION TO PROTECK NATURAL

EDUCATION TO PROTECK NATURAL


Suatu Ketika 12 Oktober 2019

Senja begitu tergesa - gesa meningalkan timur menjemput mimpi-mimpi manusia di ujung barat, seakan waktu begitu cepat meningalkan sementara mimpi, harapan, dan cita-cita terpaksa kami kejar meski diujung malam, saya yakin bintang akan bercaya meski tak secerah matahari, dan saya yakin sedikit sinar tak pernah menghalangi langkah-langkah pejuang lingkungan.


Selamat datang sahabat ( Wong Alam, Hammas, FKPAB, MAKAPALA, KBP, dan SMA N 1 karangkobar ) semua datang membawa sebuah misi melindungi melestarikan bumi ( khususnya hutan ), karena sejatinya hutan ini memberikan penghidupan bagi manusia menjaga ketersediaan air, oksigen, dan sebagi sumber keanekaragaman hayati ( kata yusvian dari dinas lingkungan hidup ), kami akan merindukanmu sahabat. menikmati secangkir kopi, ditemani lantunan suara senar gitar menambah keakraban diantara kita, kami merindukanmu sahabat, tentang pola pikir kalian yang realistis dan peduli menjaga lingkunggan. kami berharap tujuan ini akan mempertemukan kita lagi.



Mimpi - mimpi kita jangan sampai terbeli, mimpi ini harus ada aksi, tak perlu aksi yang kontroversi, melainkan aksi yang misteri, bak superhero dalam tv yang selalu menyembunyikan jati dirinya. "bertahan hidup sambil meraih mimpi. beradaptasilah. hidup ini keras,  buktikan dirimu kuat, yang membedakan pemenang dengan pecundang hanya satu: pemenang tahu cara berdiri saat jatuh, pecundang lebih nyaman tetap ada di posisi jatuh" ( Fiersa Besari. dalam bukunya catatan juang ). 

tanam - tanam mari kita menanam untuk menua kehidupan, salah satu faktor kekeringan pada musim kemarau adalah pengundulan hutan, sehingga hutan tidak mampu menahan air untuk ketersediaan dalam jangka panjang, inilah salah satu kegiatan yang dilakukan untuk meminimalkan kekeringan. peran hutan, peran tanaman sangat dibutuhkan kehidupan manusia. jadi masihkah engkau tebang hutanmu demi kantong pribadimu ??.

Berdiri tegap sebuah pohon dengan ayunan yang melingkari dahanya, senja selalu turun dibalik gunung, namun malam tak pernah tidak berbintang. lalu, kita berbaring diatas rerumputan yang tak lagi hijau, memandangi hutan-hutan yang hanya tigal ceritanya berserakan disemesta. biar aku tingal disana, kau mulai menanggis. kemudian diantara gelap kau temukan jutaan gemintang, juga rembulan yang sinarnya menuntutmu untuk kembali menghijaukan. hingga kau temukan pagi, pagi memang tak seindah senja. ketahuilah. pagi tidak pernah gagal membawamu menuju cahaya. bukan kah seperti itu perjuangan sejati ?? jadi. sudahkah kau temukan pagi-mu ??

ketika kau tak lagi melihatku dan aku hanya bisa melihat punggungmu dari kejauhan. itu artinya sebuah perpisahan telah menghampiri pertemuan kita, aku tak ingin meninggalkan kerinduan terdalam, tapi pertemuan kita yang sebentar meningalkan banyak kehidupan, meningalkan mimpi-mimpi yang harus kami banggun, dan meningalkan kesan. sampai jumpa lagi sahabat. lanjutkan tugas mulia kalian. jangan pernah lupakan sekelompok manusia yang mencoba bermanfaat untuk kehidupan semesta.biarkanlah tanaman kopi ini tumbuh, sembari bertumbuhnya kerinduan pada seorang sahabat.



EDUCATION TO PROTECT NATURAL  

suatu ketika 13 oktober 2019 pukul 13:00 Memisahkan

Friday, September 27, 2019

KUDURAN BUDAYA WANAYASA KE XI BANJARNEGARA 27/09/2019


KUDURAN BUDAYA KE XI DESA WANAYASA BANJARNEGARA

MALAM SEDEKAH NADA
28 SEPTEMBER 2019
SEDEKAH  NADA adalah dua suku kata yang memiliki makna yang berbeda, SEDEKAH adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas. sedangkan NADA adalah bunyi yang beraturan, dan memiliki frekuensi tunggal tertentu. Jadi secara sinngkat SEDEKAH NADA adalah persembahan anak anak SENDAWA ( Seni Budaya Wanayasa ) kepada masyarakat wanayasa dalam bentuk alunan musik, yang dibalut satu rangkain "KUDURAN BUDAYA".


Dalam acara KUDURAN BUDAYA bukan hanya musik yang dipersembahkan untuk masyarakat desa wanayasa melainkan satu rangkain pesta masyarakat, meliputi Sedekah Nada, Mlampah Samparan ( berjalan kaki ), bentang ondol ( ondol adalah makanan khas warga masyarakat wanayasa yang terbuat dari singkong), 


Dalam pembukaan KUDURAN BUDAYA malam ini sedekah nada disambut kabut tipis yang membawa rindu tebal untuk menyambut kreasi-kreasi anak-anak yang tergabung dalam SENDAWA.
 
Alunan musik menambah rindu yang kian mengebu, sehangat kopi menjadi penghangat sedekah nada. rindu ini taakan pernah habis, sejuta rangkain kata-katapun tak mampu mengambarkan.

Sunday, August 4, 2019

"AKSARA JUNI"

                          "AKSARA JUNI"


Bertahun-tahun kukenali dirimu
Bertahun-tahun kutulis halaman demi halaman bersamamu,
Berbulan-bulan kita ciptakan senyum dalam satu langkah yang sama.

Namun semesta memiliki cerita yang berbeda. Mendung di bulan juni cenderung mengundang rindu, aku yang terbiasa melangkah denganmu, hilang.
Seperti terjebak dikeramain yang antah brantah, menyesatkan diri pada masa lalu.

Namun egoku masih menghukummu, memperlakukanmu seperti orang asing di penuhi rasa sungkan engan menyapa tanpa terbalas.

Mentari yang mulai menampakan diri pada sekumpulan awan pekat serasa menjadi aksara engkau mulai rapuh akan janji juni.
kau beri aku senyuman lalu kuperjuangkan
kau beri aku kepastian kujanjikan kebahagiaan. Semua telah hilang bersama hujan terahir di bulan juni, namun tidak dengan kekecewaanku masih membekas.

Suara riuh angin memaksa mengahiri mimpiku, dan lewat aksaranya memberikan pengertian, bahwa terkadang ada hal yang lebih baik dikenang ketimbang di perjuangkan lalu perjuangan membutuhkan kata ihlas.

Aksara Juni
YusniaEfendi
Ig. Yusnia_Efendi